Thursday, August 28, 2014

janji tak pernah semanis madu

Kamu, pembaca blog ini, pasti pernah menjanjikan dan dijanjikan. Dan pernah merasakan manis pahitnya janji.
Tahukah kamu apa makna dari janji itu sebenarnya? Janji adalah hutang; sesuatu yang harus dibayar atau sesuatu yang harus ditepati, bahkan dibuktikan. Tapi, seiring berkembangnya dunia, janji mulai tak ternilai, tak bisa dipercaya apalagi diandalkan.

Janji memang sangat manis saat kamu mengucapkannya dan mendengarkannya. Tetapi, janji tak semanis saat dia terucap dan terdengar. Karena banyaknya penjual janji yang tak mampu mempertanggung jawabkan barang jualannya.
Karena janji selalu terucap dalam keadaan bahagia, keadaan memohon. Sebab janji terucap ialah suasana sementara hatimu. Janji mengikuti jalan logikamu.

Kamu, yang menjanjikan tak pernah memikirkan nasib janjimu kedepannya, kan? Ya, karena kamu 'berjanji' semata-mata untuk mendapatkan apa yang kamu ingin atau memberi harapan atau hanya bualan, bukan untuk kamu persembahkan.
Janji yang ada hanyalah omong kosong.
Dan akan selalu kosong.

Sang pengucap janji bahagia karena jualannya telah berhasil diobral. Begitu pun sang pendengar, bahagia karena mendapat barang obralan mewah yang dia inginkan. Siapa yang tidak ingin mendapat barang mewahbagus dan penampilannya 'menjanjikan' dengan harga murah atau didiscount atau diobral? Semua pasti menginginkannya, terutama kaum hawa.

Tapi, pernahkah sedetik saja terbesit dibenak kamu, pengucap, kamu akan melukai orang baru? Tanpa kamu sadari, sang pendengar terluka, menunggu sesuatu yang sepertinya nyata, tetapi hanya 1% kemungkinannya untuk nyata.



Aku kapok mengucapkan janji, terlebih mendengarnya dari mulut yang manis, karena hanya merpati yang tak pernah ingkar janji.

No comments:

Post a Comment