Dia hadir saat aku bingung menentukan arah aku harus kemana. Dia seperti cahaya. Menerangi sudut-sudut jalan dengan pesonanya. Dia begitu menarik perhatianku.
Tapi aku tak ingin berhenti di dia. Angin menyadarkanku bahwa dia hanya temanku.
Disaat aku ingin menggapai seseorang diseberang sana, dia menghalangi jalanku. Dia meyakinkanku bahwa orang diseberang sana bukan yang terbaik untukku. Bahwa dia lah yang terbaik.
Dia membuatku nyaman dengan segala tingkah, candaan dan perhatiannya. Dia meyakinkanku seolah di dunia ini hanya ada aku dan dia. Dia mulai menjadikan aku segalanya. Yang terpenting baginya. Ketika kesedihanku adalah kesedihannya. Bahagiaku karenanya adalah bahagianya. Dan bahagiaku yang disebabkan oleh lawan jenis lain adalah kecemburuannya.
Dia menjadi yang terakhir sebelum aku bermimpi. Dan yang pertama ketika matahari ingin menunjukkan kehebatannya.
Dia menikmati permainannya. Aku pun hanyut bersamanya dalam itu. Permainannya indah. Seperti dua umat manusia yang sedang menjalin cinta.
Semua berubah 360 derajat. Seolah dunia menginginkan kami seperti ini. Hingga akhirnya kami lupa dengan status kami yang hanya sekadar teman.
Sesaat aku tersadar, tapi aku tak ingin menjauh darinya. Aku membiarkan kami seperti ini. Begitu pun dengannya. Layaknya magnet yang kuat, dia mampu menarikku untuk tetap disampingnya.
Waktu terus berputar, aku mulai lelah dengan yang terjadi diantara kami. Aku berbicara dengannya dari hati ke hati. Tetapi ia menjatuhkanku begitu saja. Membiarkan aku terluka dengan segala harapan yang ia beri.
Ia ingin menggapai seseorang diseberang sana. Kami memiliki tujuan awal yang sama. Tetapi kami terjebak ditengah jalan. Jebakan yang membuat kami lupa bahwa kami mempunyai tujuan.
Luka yang ia gores pada perasaanku, menyadarkanku bahwa kami tidak ditakdirkan untuk menyatu. Bahwa Kami ditakdirkan untuk mempunyai status yang tidak lebih dari teman. Aku membebaskannya. Membiarkan ia terbang menggapai yang ia mau. Urusannya bukanlah urusanku lagi. Sulit bagiku untuk menerimanya sebagai temanku kembali walaupun ia merengek memintanya.
Ia yang memulai dengan indah, ia juga yang mengakhiri dengan kejam. Tak pernah terpikirkan olehku bahwa dia, manusia dipersimpangan, yang menghancurkan segalanya. Yang menggagalkan tujuanku. Yang menusukku begitu dalam. Yang mematikan rasaku.
Aktingnya begitu nyata, tanpa rekayasa.
Aku berterima kasih padanya, dia pernah membuatku merasa beruntung. Tanpa dia, aku tidak akan merasakan perih. Dia telah mengajarkanku begitu banyak tentang hidup.
Bahwa hidup ini tidak hanya tentang tujuan, tetapi juga tentang persinggahan.
No comments:
Post a Comment