Saturday, August 16, 2014

sejak detik itu...

Tiba-tiba saja aku melihatmu ditengah keramaian.
Tiba-tiba saja kau hadir dihadapanku.
Tiba-tiba saja kita bertemu tanpa kesengajaan, dengan kebetulan.
Tetapi banyak orang berkata, tidak ada yang namanya kebetulan.
Mereka bilang semua sudah direncanakan.
Bukan olehku, bukan juga olehmu.
Yang menciptakan kita lah yang merencanakan pertemuanku denganmu.
Adakah maksud dibalik pertemuan kita?
Aku harap begitu.
Sejak detik itu, aku tak pernah melepaskan pandanganku darimu,
kau selalu ada dibenakku.
Dengan mudah kau hias duniaku.
Pipiku berhasil kau buat seperti tomat.
Kau bagaikan matcha, membuatku ketagihan akan pesonamu.
Kau terlihat begitu sempurna untukku.
Aku hanya berani memandangmu sebatas punggung saja,
aku takut kau mengetahui kekagumanku.
Setiap aku mencoba memberanikan diri memandangmu diwajahmu, aku selalu gagal menyembunyikan senyum lebarku.
Sejak detik itu,
hatiku tak karuan,
detak jantungku ribut tak seperti biasanya.
Pertemuan malam itu benar-benar kejadian yang tak bisa ku hilangkan dari ingatanku.
Seketika,
kau menjadikan pertemuan itu lebih indah dari yang ku bayangkan,
lebih indah dari yang terindah.
Kau membalikkan badanmu,
menatapku lekat dan menyisakan sedikit waktu pada pengemis waktu yang lain.
Sepertinya sang waktu berpihak pada kita,
diam dan terpaku sepertiku,
membiarkan kita saling bertatapan.
Sepuasnya.
Tetapi, pipiku menyadarkanku bahwa aku terbang terlalu tinggi.
Aku harap kau terlalu bodoh untuk menyadarinya.
Semoga saja begitu.
Aku langsung saja membenamkan pipiku dalam-dalam.
Aku benci pipiku,
dia tidak bisa diajak kompromi, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku.
Harus ku akui, seluruhku tidak bisa menolak parasmu.
Dan sejak detik itu,
aku mengerti cinta pandangan pertama itu apa.
Cinta pandangan pertama itu...
kamu.
Yang seketika saja menjadi setengahku.

No comments:

Post a Comment